Malam?
Langit semakin terasa gelap, lampu-lampu terlihat terang menghiasi kota. Seakan tak pernah sunyi sedikit pun, Langkah ku terus berjalan mengikuti intuisi.
Tenang, aku punya rumah, tapi kaki ku enggan melangkah
kesana.
Perjalanan Panjang ku tempuh dan tak terasa kebisingan
kota berubah menjadi sunyi yang mencekam. Benar-benar tak ada suara selain langkah
kaki ku dan angin yang berhembus membelai kulit tanpa kain ku.
Langkah
ku terhenti tepat di persimpangan, raga ku kembali terpacu, mataku menatap
kosong kegelapan.
Dimana aku? Apa aku tersesat?
Deg!
Tega sekali kaki ini melangkah dan menyesatkanku?
Sadar Jingga, ini bukan tempat yang pantas untuk mu,
tak ada cahaya setitik pun, Binatang malam saja sepertinya ogah mengeluarkan
suaranya.
Lalu? Apa yang harus aku lalukan?
Suara pohon rindang tertempa angin menusuk indra
pendengaran ku, aku mengusap kedua lenganku, dingin. Aku menelan saliva ku
susah payah.
Goblok, Jingga kamu terlalu naif! kamu meninggalkan hp
mu! Dan sekarang apa yang bisa kamu buat? Takut.
Iya memang, ingin pergi rasanya sulit, mataku sama
sekali tak dapat melihat sekitar.
Dengan perasaan campur aduk, air mataku lolos begitu
saja, badanku bergetar, kakiku tak sanggup menompang tubuhku lagi.
Mah jingga takut, jemput jingga mah.
Gumam ku.
Mungkin ini saatnya untuk pasrah. Tak ada gunanya jika mengharapkan ini hanyalah mimpi buruk.
Tapi tak bisa kupungkiri, jika aku sempat mengharapkan
itu terjadi.
Posisi ku masih sama, jongkok dengan menenggelamkan
wajahku di antara lipatan tangan dan menompangnya dengan kaki.
Aku tersadar, ada cahaya minim tersorot padaku,
kupikir ini sudah pagi. Tapi ternyata, setelah aku mendongak, Laki-laki
bertubuh jangkung menatapku penuh selidik. Sesaat kemudian ia pergi meninggalkan
ku yang tersentak.
“tunggu!” pekikku dengan cepat namun terdengar lirih,
dan itu berhasil membuat Laki-laki itu berhenti, lalu berbalik.
“oh manusia.” Gumamnya yang bisa kudengar. Dia tak
begitu jauh dariku.
Aku mengernyit dan berdiri. Sebelum mendekatinya aku
mengusap terlebih dahulu pipiku yang basah.
“maksud kamu?” Tanyaku, namun dia hanya diam dan
melanjutkan jalannya.
Aku menatapnya kesal. Dia manusia apa kulkas! Dingin
banget.
Aku berdecak dan sedikit berlari mengikuti jejak
kakinya.
Terlalu berani, tapi aku tak peduli.
Meskipun dia orang jahat, aku tetap akan mengikutinya.
Karena bagiku saat ini : lebih baik mengikuti orang jahat daripada sendirian
dalam kegelapan.
Shit! Sangat buruk. Tak ada yang mendingan, Setidaknya
tak masalah jika aku menumpang cahaya padanya.
Aku Berjalan berdampingan dengannya, berharap banyak
jika otakku tak berfikir macam-macam. Namun sialnya aku melihat dia melirik ku
sekilas.
Apa dia mendengar suara perutku?
Kumendengar dia menghela nafas, setelahnya ia
berhenti.
Ia membuka tas ranselnya lalu mengambil sesuatu dari
sana dan menyerahkannya padaku.
Aku menatap benda itu dan menautkan alisku bingung.
“Ambil,” Suruhnya, dengan ragu aku menurut.
Sebungkus roti sudah kugenggam, lalu apa? Dia tak
mengucapkan apapun, dia hanya berjalan kembali dan meninggalkan pertanyaan
dalam benakku.
“Makan.” Ucapnya tanpa melirik.
“Hah?”
“Lo butuh makan.”
“siapa bilang?” Sahutku acuh, Sial aku lupa
mem-briefing perutku.
“Lambung lo!” Balasnya dingin, aku berdecak kesal,
kenapa sih aku harus bertemu dengan cowo Sedingin ini. Jika dibandingkan, es
dari kutub utara mungkin akan kalah saing padanya.
Andai saja tempat tadi tak segelap itu, mungkin aku
tak akan pernah mengikuti laki-laki ini.
Dengan perasaan jengkel, aku membuka bungkus roti,
sampai aku sadar yang memberi roti ini
adalah orang yang tak kukenali.
Jika diingat kebelakang, kata mamah : Jingga gak boleh
ngambil makanan atau benda apapun dari orang yang gak Jingga kenal, bisa aja
itu racun atau narkoba, nanti Jingga diculik.
Aku sontak menggelengkan kepala, dan dengan cepat
menyerahkan roti yang sudah terbuka padanya.
Dia menoleh kearahku dan menaikkan satu alisnya.
“gak jadi aku kenyang.” Laki-laki itu terkekeh ringan,
ia melanjutkan perjalanannya dengan ekspresi datar. Makin kesini, aku jadi penasaran.
“Gue gak make narkoba.” Ujarnya tiba-tiba, aku
mengernyit heran.
“kalo racun?” Balasku, terlalu polos, kenapa mulutku
jadi ceplas-ceplos gini sih?
Mendengar pertanyaanku, dia tiba-tiba berhenti dan
mendekat kearahku. Aku tersentak dan mundur perlahan namun tertahan.
“kalo gue mau nyulik lo, gue gak perlu pake racun.
Saat ini juga gue bisa ngelakuin apa aja ke lo.” Bisiknya tepat di telingaku,
membuat bulu kudukku merinding. Jantungku mulai bar bar didalam sana, posisi
ini sangat dekat, tamatlah riwayat ku.
Tapi, ada benarnya juga, disini hanya ada kita berdua,
dia bisa aja melakukan tindakan apa aja pada ku. dan bisa dilihat dari
sepanjang perjalanan, keadaanku baik-baik saja.
Apa dia orang baik? Ahhh…. Aku bingung! lagian Aku
yang mengikutinya kan? Kenapa jadi Aku yang jadi merasa terancam?
Ahh sudahlah setidaknya aku sebagai perempuan Tangguh
harus bisa melindungi diriku sendiri. Aku gak boleh lemah, gak boleh pasrah
aja, ayo lawan.
Tak perlu waktu panjang aku merobek roti itu setengah
dan ku berikan padanya.
Dia menatap roti itu, lalu menghela nafas gusar.
“Aku gak percaya, Kamu makan juga.” Ujarku, tanpa
bertele-tele, ia mengambil roti itu lalu memakannya tanpa ragu.
Aku menghitung 10 detik, terlihat tak ada perubahan.
Tetap sama seperti sedia kala.
Oke, aku mempercayainya.
“Udah?” Aku mengangguk senang, “Makasi,” Ucapku,
setelahnya kami lanjut berjalan dan aku sibuk mengunyah.
Sudah tau pasti, tak ada percakapan lagi diantara
kita, terasa canggung. Sampai Aku melihat lampu-lampu menerangi jalanan, meski
renggang setidaknya aku lega.
Dan aku baru menyadari sesuatu, ternyata Aku sedari
tadi melewati pesisir hutan, kanan kiri hanya terdapat pohon-pohon rindang.
Seram sekali, bahkan tempat ini begitu asing bagiku.
Feelingku sih, tak jauh dari sini, mungkin aku akan
melihat kota.
“Lo sebenarnya mau kemana?” Tanya laki-laki
disebelahku tiba-tiba, aku menoleh lalu menggeleng.
“ga tau.” Dia berdecak.
“Aneh.” Umpatnya.
“Idih! aku gak aneh ya, kamu kali yang aneh.”
Protesku, enak saja.
“Terus?”
“terus apa?”
“Lo gelandangan?”
“Enak aja, Aku punya rumah ya!”
“Ohh lo pikun?” benar-benar! ni cowok ngajak gelud!
Gedeg banget aku.
“Aku gak aneh, Aku gak gelandangan, dan Aku gak
pikun!”
“Aku Cuma gak mau pulang kerumah. Puas?!” Ujarku
emosi.
Baik jingga ini waktunya Inhale exhale. Sabar.
“Klasik.” Gumamnya yang bisa kudengar.
“Maksudnya?”
“Nyusahin!” Ucapnya penuh penekanan tepat dimukaku.
Ini sudah kesekian kali nya Aku dibuat Emosi.
“Denger ya, aku gak nyusahin siapapun, aku gak mau
pulang karena aku benci malam!”
“Tapi lo keluar waktu malam.”
Ck! Kenapa sih dia? Kenapa dia selalu memutar balikkan
jika semuanya aku yang salah? dia tak tau kebenarannnya kan? Baiklah akan ku
beri tahu. Kita lihat apa dia masih mau menyudutkanku.
“Dengar ya! Aku benci malam itu ada sebabnya, Papah
selalu pulang mabuk, dan Mamah selalu marah-marah, dan jadinya mereka saling
bentak. Setiap malam itu selalu terjadi, sampai aku berharap bahwa malam gak
akan pernah datang.”
“Aku benci malam, aku benci rumah, aku muak dengan semuanya,
aku milih pergi dari segalanya, sampai aku ketemu lagi sama pagi,”
“dan lo tersesat.” Potongnya.
“bisa gak sih, dengerin dulu orang ngomong, aku belum
selesai.”
“ga perlu, sekarang lo mau kemana? Ini belum pagi.”
Aku menghela nafas berat.
“ikut kamu boleh?” Ujarku pasrah, berharap ada
keajaiban,
“gak.” Oke, benar kata orang jangan terlalu berharap
banyak pada cowok kayak dia, kalo kamu gak mau jatuh ke jurang.
“Rumah lo dimana?”
“Aduhh, ternyata aku beneran pikun.” Ucapku
mendramatisir, aku memegang kepalaku menjiwai, Aku gak mau pulang titik.
“gausah drama! Gue tanya rumah lo dimana?” Ucapnya
penuh penekanan. Uhh… ternyata gak
mempan, Aku tetap menggeleng, tak akan kuberi tau.
“Keras kepala! Rumah lo dimana?!” bentaknya, membuatku
terlonjak.
“Jalan Mawar, No 36 B.” Jawabku cepat. Woaww aku di
bentak? Gilanya hal itu sukses membuatku mengatakan alamat rumah ku.
Siall!
Dia menatapku tersenyum tipis lalu mematikan
senternya, dan aku baru menyadari jika kita sudah berada di tengah hiruk pikuknya
kota. Meski sudah larut malam, Kota tak pernah absen menyumbangkan polusi
suara.
Selain itu, tepat saat ini, aku melihat jelas wajah
laki-laki dihadapanku, jantungku.
“Oh deket.” Gumamnya lalu meraih tanganku dan
mengajaknya berjalan cepat.
Disini aku masih terpaku, mengikuti setiap Langkahnya.
Jantungku berdetak cepat merasakan kulitnya menempel pas pada genggaman
tanganku.
“mau kemana?”
“Rumah lo”
“ihh,” Aku melepaskan tangannya pada tangan ku. “gak!”
“Ngeyel, kasian orang tua lo nyariin.”
“Siapa bilang?”
“ck lo sebagai anak bisa gak nyusahin gak?”
“Gak!”
“Keras kepala banget sih lo!”
“Bodo, Lagian apa urusannya sama kamu?”
“urusannya sama gue, lo ngikutin gue!”
“ihh aneh banget.”
Dia mengusap wajahnya frustasi.
“Gue gaada waktu buat ngurusin lo, gue harus pergi.”
“Yaudah pergi aja, biarin aku disini sendiri sampe
pagi. aku gak masalah.” Ujarku tetap pada pendirian, aku gak mau malu malu in,
kan aku yang mau minggat masa aku juga yang pulang. Ogah lah.
“Bisa gak sih lo gak keras kepala? Dunia ini bukan
cuma tentang lo, ngertiin orang di dekat lo. Dan ya, ini Kota kalo lo lupa.”
“aku gak pikun, aku tau ini kota.”
“susah ya ngomong sama bocah.”
“ishh aku gak bocah!”
“Ya terus apa? Kalo lo gak bocah. Coba mikir panjang,
kalo lo gak ketemu gue, gue yakin lo ga akan pernah ketemu rumah lo lagi.” Aku
terdiam, kata katanya menusuk ku, tapi,
“Tapi, Kamu gak bakal tau, gimana perasaan aku kalo
aku dirumah.”
“dan lo gak pernah mikir, gimana perasaan orang tua lo
kalo anaknya ilang.”
“aku gak peduli.”
“Egois.”
“Mereka juga!”
“ngeyel.”
“biarin.”
“pulang gak?”
“gak!”
“pulang!”
“enggak!”
“ohh lo gak mau nurut?” Aku menjulurkan lidah ku.
Aneh banget, tiba-tiba dia mengangkatku layaknya
karung beras.
“aaaaa…” pekikku kaget, aku berusaha memberontak namun
raganya sangat kuat untuk perempuan lemah seperti ku.
“Turunin aku gak!”
“gak!”
“Aku teriak nih?”
“yaudah teriak sana, gaada yang peduli,”
“Tolong!! Aku diculik!” pekikku dan benar saja tak ada
yang peduli, beberapa orang yang melihat hanya cekikikan. Aneh banget sih aaa
Mamah.
“Turunin aku cowok kulkas!” rontaku.
“Gak, sebelum lo pulang!”
“iya iya aku pulang, turunin aku dulu!” Pasrahku, dari
pada seperti ini, lebih baik aku berjalan, tak ada pilihan lain. Mendengar aku
menurut, dia menurunkanku lalu mengacak rambut ku.
“gitu kek dari tadi.” Ujarnya lalu Kembali meraih
tanganku dan menarik tanganku lembut untuk ikut berjalan cepat.
Aku masih mengatur deru nafas dan detak jantungku. Kenapa
dia dengan seeanaknya mencampur adukkan perasaanku sih?
Lagi lagi aku mengatakan ini aneh! Itu pertengkaran
pertama kami. Padahal kami tak mengetahui nama masing masing, tapi kami tetap
melakukan pertengkaran itu layaknya kami sudah saling mengenal sejak
berabad-abad lamanya.
Keadaan ini kunyatakan sebagai badut.
“jingga.” Kenalku padanya.
“Hah?”
“Namaku Jingga, Kamu?” Ujar ku lagi memperkenalkan.
“Malam” Sahutnya, aku menyernyit.
“aku tau ini udah malam, aku nanya nama kamu.” Ucapku
sebal, tapi dia malah berhenti dan berbalik menatapku.
Aku yang ditatap hanya nyengir, otakku connect dengan
cepat. Aku mengerti maksudnya. Aku maju menyamakan posisiku disebelahnya,
tangan kami masih bertaut.
“nama kamu unik Malam.” Bisikku lembut.
“Nama lo juga.” Balasnya Kembali menarik ku untuk
berjalan.
Aku terkekeh ringan, seperti ada kupu-kupu menggelitik
perutku, perasaan aneh apa ini? Tercampur seperti adonan kue, begitu memikat.
Tak terasa rumahku hanya beberapa Langkah lagi,
tinggal menyebrang aku sampai di rumah
dengan selamat.
Byurr!
Hujan, kenapa tiba-tiba deras? Apa Alam tidak ingin
kami perpisah? Hahaha Mustahil itu hanya sebuah puisi, aku saja yang berfikir
demikian.
Malam dengan cekatan menarikku untuk berteduh, dibawah
pohon rindang, ia memberikan payungnya padaku.
Aku mengerutkan alisku heran.
“Tas kamu kayak kantong Doraemon ya?” Dia hanya
tersenyum tipis.
“pulang, nyokap bokap lo nungguin.” Suruhnya padaku.
Aku menggeleng.
“Kamu ikut aku ya?”
“gak, lo aja.”
“kenapa?”
“gausah banyak tanya, pake ini.” Ujarnya menyerahkan
payungnya padaku.
“terus kamu?” bingungku.
“gampang, yang penting lo pulang.”
“tapi,”
“gausah banyak bacot, buru.” Potongnya, aku pun
mengangguk dan mengambil payung itu.
“Kamu tunggu disini ya? Aku ngambil payung aku dulu,
jangan kemana mana.” Wantiku, dia mangangguk.
“janji?”
“iya, Buru!” Suruhnya, akupun dengan terpaksa berlari
pergi meninggalkannya, menuju rumahku yang kebetulan gerbang terbuka lebar.
Papah pergi?
Aku menepis pikiranku tentangnya, yang harus aku
pikirkan saat ini adalah Malam, kasian dia kehujanan. Aku berbalik kembali
untuk melihat apakah Malam masih disitu, namun nihil aku tak melihat siapapun.
Dia pergi? Secepat itu? Apa semua cowok tak bisa
menepati janjinya? Aku belum mengucapkan terimakasi padanya.
Aku menghela nafas berat.
“Sayang, Anak Mamah, kamu dari mana aja nak? Mamah
Papah panik nak nyariin kamu.” Isak Mamah, lalu berteriak pada bibi untuk
mengambilkan payung untuknya.
“Sayang, kamu ngeliat apa?” Tanya mamah menyentuh
lenganku, aku terlonjak dan berpaling.
“Papah mana mah?” Aku mengalihkan pembicaraan, aku
masih bingung, kemana Malam pergi?
“Papah kamu nyari kamu sayang, nanti Mamah telphon,
kalo anaknya yang paling cantik ini udah pulang. Ayo masuk sayang.” Ajak Mamah
menarik tanganku, aku mengangguk mengikutinya, dengan pandangan masih menatap
sekilas dimana Malam tadi berada, berharap dia masih disana.
“maafin papah mamah ya nak? Kami salah, maaf udah
bikin kamu gak nyaman dirumah.” Isak mamah masih menuntunku untuk berjalan.
Banyak ucapan-ucapan penuh isakan yang mamah
keluarkan. Tapi pikiranku selalu tertuju pada Malam.
Dimana dia? Kenapa dia pergi tanpa pamit? Apa dia
benci padaku? Karena aku pernah membenci malam?
Jika iya.
Dengarlah, aku memang membenci malam, malamku tadinya
bukan kamu. Tapi sekarang Malamku itu kamu, aku tak akan pernah lagi merindu
pagi berkat mu.
Aku sekarang mengerti, Cahaya paling terindah datang
pada malam hari dan aku sempat terpukau menatapnya.
Malam, aku ingin bertemu. Aku ingin melihat cahaya mu
lagi.
Malam?
Kamu dengar aku kan?
udah... selesai.
Komentar
Posting Komentar